Sabtu, 23 Juli 2016

Puisi Goenawan Muhammad


Pada Sebuah Pantai: Interlude

     Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
Yakni ketika pasang berahir, dan aku menggerutu, masih terasa
harum lehermu" dan kau tak menyahutku

           Di pantai, tapi memang tinggal terumbu,
           hijau (mungkin kelabu)
           Angin amis. Dan
           di laut susut itu, aku tahu,
           tak ada lagi jejakmu.

           Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari sebuah
dongeng tentang jin yang memperkosa putri yang semalam mungkin
kubayangkan untukmu, tanpa tercatat, meskipun pada pasir gelap.

            Bukankah matahari telah bersalin dan
            melahirkan kenyataan yang agak lain?
            Dan sebuah jadwal lain?
            Dan sebuah ranjang & ruang rutin, yang
            setia, seperti sebuah gambar keluarga
            (di mana kita, berdua, tak pernah ada)?

             Tidak aneh.
             Tidak ada janji
              pada pantai
              yang kini tawar
              tanpa ombak
              (atau cinta yang bengal)

                  Akupun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan, berberes
              dalam sebuah garis, dan berkata:"Mungkin tak ada dosa, tapi ada
              yang percuma saja"

                    Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil
               Dan itulah soalnya.

                    Di mana ada keluh ketika dari pohon itu
                    mumbang jatuh seperti nyiur jatuh dan
                    ketika kini tinggal panas & pasir yang
                    bersetubuh

                    Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
                    di mana mengentara dalam hati dan kalimat-
                    kalimat bisa berlarat-larat (setelah semacam
                    affair singkat) dan kita menelan ludah sembari
                    berkata: "Wah, apa daya".

                    Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk
menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.

                     Lagipula dalam sebuah sajak sentimentil hanya ada satu
dalil:
biarkan akal yang angker ini mencibir !

                     Meskipun alam makin praktis dan orang telah memberi
tanda DILARANG NANGIS.

                     Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan datang lagi padaku.

                     Kita mermang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
                     mungkin pula tak kekal
                     Kita memang bersandar pada mungkin.
                     Kita bersandar pada angin

                     Dan kita tak pernah bertanya: untuk apa?
                     Tidak semua,  memang, bisa ditanya untuk apa

               Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada
                     sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut pada
lokan
                     mungkin akan tetap saja di sana - apapun maknanya

                    Goenawan Muhammad 1973


Tidak ada komentar:

Posting Komentar