Minggu, 17 Juli 2016

Cerpen Gadis Kuil



GADIS KUIL

Aku seringkali mencumbui bait-bait puisi yang kutulis dibawah teduh pelepah kurma yang gersang. Di gurun yang jarang diluruhi hujan, mata air dan air mata. Aku membacanya sendiri dengan senyum langit mendung yang mengerikan. Layaknya dirimu, aku juga jatuh cinta pada gurun dan puisi. Meski sesekali kurindukan hujan memandikanku. Menghapus kusam dan rasa cemas yang selalu saja menghampiri.
            “Tuhan,
              Ibu dan ayah bermunajat untuk seorang anak laki-laki
              Seperti burung-burung yang bermain di atap kuil
              Ibu dan ayah menengadah untuk seorang putra
              Memukul lonceng pemujaan untukMu
              Ibu dan ayah berdoa untuk anaknya
              Persembahan untuk engkau yang diagungkan
              Ibu dan ayah bermunajat, menengadah dan berdo’a
              Untuk seorang anak
              Aku dititipkan disini untuk sekedar membalas budi
              Sujud dan sholatku untukMu”.

            Kulipat puisiku membentuk pesawat kertas. Kuterbangkan seraya memejamkan kedua mata ini. Kuharap terbang jauh sampai pada alamat yang kusemogakan. Kubuka perlahan pekat mataku. Ah... pesawat kertas itu hanya terbang sejauh 5 meter di depanku. Tak apalah, setidaknya aku sudah cukup ikhlas atas apa yang aku pikirkan hari ini. Tentangku, ayah dan ibu, juga tentang keberadaanku.
            Senja sudah mulai turun, menjingga di pelupuk barat. Aku melangkah pulang ke pengasingan. Bagiku ini pengasingan. Dimana perempuan sebayaku sumringah setiap hari di Sekolah Menengah Atas (SMA) bersama teman-temannya. Sedang aku harus mengurusi patung-patung dan lonceng. Sendiri. Hingga larut malam dan sunyi. Kurebahkan tubuhku di ranjang. Nafasku  mengembara hanya sampai bola lampu kuning di atap kamarku. Lelap.
***
            “Tok tok tok !!”
            “Karin, bangun. Sekarang hari minggu. Segera bersihkan sampah-sampah depan gerbang”
            “Karin, bangun”.
            Iya sebentar bu. Aku beranjak dari ranjang, kusingkap kerudungku di bahu kananku. Aku bergegas membuka pintu. Itu suara Bu. Aisyah. Hampir setiap hari membangunkanku. Aku mulai menyapu di halaman kuil yang tak begitu kotor. Sesekali aku membayangkan lelaki berperawakan tinggi putih yang datang kesini setiap minggu. Aku ingin mengenalnya.
            Benar, lelaki itu datang lagi. Tapi kali ini dengan wanita cantik yang sepertinya iya tuna daksa, meringkuh di kursi roda. Aku mulai berpikir siapa dia ?. Matanya lentik berkulit putih. Dia bicara. Ya... dia berbicara. Tapi apa yang dikatakannya. Bahasanya tak sama dengaku, aksennya berbeda. Dari mana mereka ?.
            Aku terus berusaha mendekati mereka di kerumunan yang tak begitu ramai. Aku mendengarnya. Ya.. aku dengar itu.
            Yakek’ gnank’ tun, Arman !1. Ucap wanita itu.
            Keduanya bergerak pulang setelah menyelesaikan pemujaan. Melangkah meninggalkan kuil. Lelaki itu mesra menyurung kursi rodanya.
            “Kak tunggu, sapu tangan kakak jatuh”. Teriak Ali parau. Bocah kecil yang sering menemaniku menemui ikan-ikan di sungai.
            “Terimakasih. Siapa nama adik ?”. Lelaki itu tersenyum.
            “Ali kak. Iya sama-sama”. Bocah itupun langsung berlari pergi menuju temannya bermain.
            “Saya Arman. Terimakasih !”. Teriak Arman.
Aku dengar itu, lelaki itu bernama Arman. Ya... teriakannya jelas sekali. Dia Arman. Aku semakin penasaran. Semakin aku ingin tahu tentangnya. Lelaki yang tampan, senyum yang kembang. Pandanganku tak pernah kujauhkan darinya. Pikiranku tak akan melepaskannya, dari cengkraman yang begitu kuat kusembunyikan dibalik perisai kata di setiap puisi yang tak pernah berujung mesranya.
“Rubaiyat bintang-bintang
  Kuinitip dekat jendela saat malam pekat petang
  Lekas kupandangi kemilaunya
  Tersemat wajah-wajah kerinduan”.
Malam ini aku hanya bermain dengan puisi. Sembari bemunajat tentang kerinduanku untuk ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka. Air mataku telah habis bersama lenyap hujan. Seringkali aku terpenjara dalam khayal. Membayang sosok Arman yang tampan. Sepertinya dia lebih muda dariku. Ah... sudahlah. Aku hanya gadis kuil. Sudah 5 tahun aku menjadi pelayan disini.
“Ceteeek”. Kumatikan lampu kamar. Tidur.
***
Matahari mengambang dekat bukit Yanar Dag. Bukit yang terletak di wilayah Apsheron, Azerbaijan. Bukit yang selalu terbakar sepanjang waktu meski diguyur hujan dan salju. Aku masih saja menyapu halaman. Ritual pagiku setiap hari. Tapi kenapa tadi aku tidak dibangunkan oleh Bu. Aisyah. Mungkin ia sibuk menyiapkan bekal sarapan dan seragam Ali. Hari ini Ali –anaknya- masuk sekolah kelas 5 Sekolah Dasar (SD) setelah hampir dua bulan dia liburan musim panas.
Segera kubereskan pekerjaanku. Aku ingin menemui Ali. Mengantarnya pergi sekolah seperti biasa. Dia anak yang rajin. Aku senang dengannya. Hal ini juga menjadi hiburan tersendiri bagiku. Dari pada aku hanya menghabiskan sepiku di kuil.
Kupercepat langkahku. Berpacu menyingkirkan angin yang begitu lirih. Sampai aku di petarangan rumah Ali, ya... rumah Bu. Aisyah. Pandanganku semakin tajam ke ruang tamu rumah itu. Mataku beku. Astaga, aku tak menyangka. Kukucek-kucek berulang mataku. Aku tidak percaya. Mungkin ini karena pengaruh aku sering mengkhayalnya. Benar, aku tidak bermimpi kali ini. Ya... benar, dia Arman. Lelaki itu. Apa yang dia lakukan ?.
Aku senang sekali pagi ini dapat melihatnya lagi. Piasnya berbeda dari laki-laki lain yang datang ke kuil pada umumnya. Ya... aku tahu betul itu. Dia sangat tampan sekali. Aku ingin menyalaminya.
“Karin sini, masuk !”
“Saya masak banyak shakarbura2
“Masuklah, jangan mengintip saja”.
Lagi-lagi suara Bu. Aisyah. Teriaknya menyeret langkahku. Aku tertatih malu. Tapi ini juga kesempatan untukku mengenalnya. Kuanggukkan kepalaku menyapanya. Dia terlihat santun, aku duduk berhadapan dengannya. Lelaki yang seringkali kupertanyakan padaa malam di setiap tidurku. Kali ini aku sangat dekat dengannya. Dekat sekali. Dadaku berdetak kencang. Darahku mengalir deras. Mataku tak henti mengaguminya. Sesekali kupalingkan pandanganku. Kulihat Bu. Aisyah yang senyum padaku. Nadiku semakin dag dig dug menggigil. Sepertinya Bu. Aisyah mengenali jalan otakku. Sebentar saja aku mencicipi Shakarbura dan setengah gelas wine tak habis. Aku ingin keluar menghindarinya. Aku tidak begitu kuat menahan gemetar tubuhku. Kueratkan mataku ini memejam.
“Siapa nama anda ?”. Aku sontak menyapanya.
“Hehe... saya Arman, Karin. Salam kenal”. Lelaki itu mekar senyumnya. Dari mana dia tahu namaku. Tidak. Tidak. Aku tak boleh GR dulu. Aku harus pergi. Ah...
Aku bergegas “Bu terimakasih. Aku sudah kenyang. Aku pamit bu”.
“Tunggu Karin, maukah kamu menemaniku menikmati indah pagi desa ini ?”. Dia menarik tanganku. Menggengam pergelangan lalu melepasnya kembali. “Maaf saya telah lancang menyentuhmu. Tapi kuharap kamu mau mengajakku mengelilingi desa pagi ini. Kumohon”.
Kupercepat langkahku berjalan menapaki lorong-lorong disamping rumah-rumah tetangga. Arman mengikutiku tergopoh-gopoh. Aku ragu untuk sekedar menoleh kebelakangku. Aku melangkah dengan kewaswasanku. Kudengar suara semilir riak air. Kudapati langkahku telah sampai di sungai, menghilangkan sejenak lamunanku. Aku menyaksikan ikan-ikan berkejaran melawan arusnya. Kita mulai berkenalan di tepi sungai. Aku telah membunuh rasa sungkanku. Kita saling bersila memandangi sungai, seperti semedi. Ah... Sudahlah. Akau cukup senang hari ini. Aku ingin memimpikannya. Kuharap diapun sama. Malam yang indah.
***
“Karin... Karin”.
“Siapa ?”.
Sepertinya aku mengenal suara itu. Tapi kenapa dia yang membangunkanku ?. “Sebentar...”. Segera aku bercermin. Mengusap-usap wajahku yang kusut. Sebisa mungkin aku harus terlihat indah didepannya. Kukenakan kerudungku. Kerudung merah jambu kesukaanku. Padahal kerudung ini hanya kukenakan saat pesta Novruz’3 saja. Selain itu aku menyimpannya rapi di lemari.
Lagi-lagi Arman mengajakku berkeliling desa. Dia ingin sekali mengenal desa ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Entah apa yang ingin dia ketahui. Aku mengiyakan kemauannya. Aku terus saja terjerembab di matanya yang tajam dan hidungnya yang mancung. Aku belum jauh mengenalnya tapi aku telah teduh dalam dekapnya. Pada deras aliran sungai, kicauan beburung kecil warna-warni, segerombol ikan dengan gerak lincahnya, dibawah rindang pohon elderberry4 aku merelakan kesucianku untukmu. Lelaki yang tak pernah kupertanyakan nasabnya.
Langit telah hilang mendungnya. Terseret oleh camar beterbangan elok di ketinggian. Merasuki hatiku yang hangat oleh cumbunya. Hampir setiap pagiku dihiasi harum cumbu kembang  lelaki yang memanag aku idamkan sejak lama. Arman. Sampai sering aku melalaikan tugasku merawat kuil. Maafkan aku ayah, ibu. Maafkan aku tuhan, atas segala kelalaianku. Aku begitu mencintainya. Aku tak ingin jauh darinya. Engkau telah hadiahkan aku lelaki yang mencintaiku –mungkin- melebihi cinta ayah dan ibu yang telah lama tidak menjengukku.
“Kaulah hadiah
  Dari segala penantian yang kucemaskan
  Loceng-lonceng seakan bergema dengan sendirinya
  Kuil ini menjadi taman yang sayup dan semilir
  Kaulah hadiah
  Tuhan mengirimmu untukku
  Kaulah hadiah yang begitu sempurna
  Kuingin
  Kau selalu bersamaku
  Sampai malam yang panjang telah habis kunikmati”.
***
Sudah dua minggu Arman tidak menemuiku. Lanskap kesedihan dibalut kesendirian yang tak tahu kemana harus kukembara. Menyelami kegelisahan yang dalam disetiap do’a tidurku. Digerayangi dana dihantui ketakutan yang seringkali kupertanyakan. Langit menjadi mendung di ubun-ubunku. Aku hanya bisa memutar kembali rekaman mesra di otakku saat kau mencumbuku.
          “Taman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja
Satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dana aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berpanding
Perdamaian
Halus lembut dipijak kaki.
Bagiku bukan halangan.
Karena
Dalam taman kita berdua
Kau kembang, aku kumbang
Aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia.”5
Aku tak bisa lebih lama menahan rindu ini. Aku harus menemuimu. Tapi kemana ?. Siapa yang bisa kutanyakan ?. Siapa yang mengerti tentang kemesraan kita ?. Yang pasti langit tak akan menjawab. Seisi kuil juga pasti mengacuhkanku. Lalu pada siapa ?. Kau bilang aku harus merahasiakan hubungan ini.
Arman... Semalam aku sakit memikirkanmu, aku lemah. Wajahku pucat, hidungku sesekali mimisan, aku batuk-batuk, tubuhku dipermainkan angin, smakin menggigil. Tubuh ini serasa remuk. Aku takut, Arman. Aku ingin mengajakmu membawaku ke dokter. Aku tak ingin yang lain. Aku hanya ingin kau yang mengantarku.
***
“Tidak, dokter. Tidak”.
“Aku tidak boleh... tidak”.
“Anda berbohong... jangan... jangan”.
Baiklah, jika ini benar terjadi aku tak akan segan mencintai dan menyayangimu anakku. Tidak ada yang boleh tahu kehamilanku. Percayalah nak, tak kubiarkan burung gagak turun ke petarangan. Merengeklah nak, aku sudah tak lagi kuat berteriak, mengadu pada tuhan yang sring kali hilang dan jarang kutemui. Aku ingin sekali mengasihimu. Aku luntur segala dosa oleh kesucianmu. Arman... kembalilah... !.
“Ali.. sini temani kakak”. Mungkin Ali pernah tahu tantang Arman. Mungkin dia pernah dicerikatan ibunya, Bu. Aisyah.
“Tidak kak. Kak Arman adalah putra kerajaan yang mendanai seluruh kegiatan di distrik ini. Itu saja yang aku tahu kak”. Ali begitu polos. Dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya setelah kudapat informasi singkat tentang Arman. “Tidak... tidak... dia bukan pytra kerajaan”.
“Bu Aisyah, maaf”. Aku mengalirkan tangis sesenggukan.
“Kenapa ? kenapa Karin ? kenapa kamu menangis ?.
“Maafkan aku”.
Rangkaian kata telah habis kusuarakan. Bungkam hanya seutas tangis, air mata yang mulai kering, rindu yang pecah bercerai berai. Ketakutan dan kecemasan datang bersama hujat hujan yang memukul-mukul hatiku. Ya... kudengar teriakan itu, bak petir yang menyambar pohonan rindang lalu tumbang. Lalu aku berpikir dalam cekam. Otakku mengawang berputar mengucurkan kegelisahan.
“Tidak. Tidak mungkin Arman melakukan itu. Dia bangsawan, kau harus tahu itu !”.
“Lebih baik kau gugurkan kandunganmu. Fitnah tidak boleh lebih lama gerilya di desa ini”.
“Gugurkan Karin, gugurkan !”.
Tidak mungkin. Setiap wanita hanya ingin menyayangi. Lalu pada siapa aku harus menyayangi ? bayiku suci. Akan kupersembahkan dia sebagai penebus dosaku pada tuhan. Dia yang nantinya akan menemani hari-hariku mengurusi kuil. Dia akan menjadi penerusku. Dia akan menjadi anak yang baik dan berbakti. Setiap petang aku bermunajat pada pekat sembari memejam khusu’. Aku menantikan kelahirannya. Sudah kusiapkan nama untuknya.
“Tidak. Ini akan menjadi gunjingan di desa kita”.
“Lebih baik kau pergi saja tinggalkan kuil”.
“Kamu tlah berbohong, Karin”.
“Kerajaan akan murka atas khayalmu”.
Ibu, ayah, tolong aku. Aku telah pasrah dalam diri yang hina. Peluk aku, ayah, ibu. Datanglah. Aku ingin kalian mengajakku pulang kerumah. Aku telah kehilangan seluruh kekuatanku. Hadirlah ! walau hanya dalam mimpi.
          “Anakku
Ibu dan ayah mendengar tangisan lucu
Apakah ia bayimu ?
Tampan sekali, kami merasakannya disini
Resonansi rengekan yang begitu riang

Anakku
Tuhan tak pernah membunuh hambanya
Dosamu akan dihapus atas kehendaknya
Berhiaslah dirimu
Serahkan hanya kepadanya

Anakku
Ayahmu bilang dia ingin sekali menamakan cucunya, Imran”.









1.      Yakek’ gnank’ tun, Arman ! = Mari kita pulang, Arman ! (Bahasa Armenia)
2.      Shakarbura = Kue manis terbuat dari hazelnut yang beraroma jahe.
3.      Novruz’ = Perayaan tahun baru 21 Maret (Bahasa Persia)
4.      Elderberry = Sacumbus. Buah sejenis anggur kecil yang berbunga
5.      Taman = Puisi Chairil Anwar Maret 1943




Tentang Penulis
Fajrus Shiddiq, lahir di pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1 Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Aktif tulis menulis semenjak masih nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.
Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab) dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI.


2 komentar:

  1. Wah... ini nih penulisnya Gadis Kuil.

    Eh... kamu pasti belum denger. Meski waktu itu pemenang ditiadakan, salah satu juri bilang kalau tulisan kamu ini masuk kategori unik atau nyeleneh gitu. Lupa istilahnya, pokoknya artinya sejenis dua kata itu (:

    BalasHapus

    BalasHapus
  2. hahaha.... amateur memang harus nyeleneh biar narik becak.. eh..

    BalasHapus