GADIS KUIL
Aku seringkali mencumbui bait-bait puisi yang kutulis dibawah teduh
pelepah kurma yang gersang. Di gurun yang jarang diluruhi hujan, mata air dan
air mata. Aku membacanya sendiri dengan senyum langit mendung yang mengerikan.
Layaknya dirimu, aku juga jatuh cinta pada gurun dan puisi. Meski sesekali
kurindukan hujan memandikanku. Menghapus kusam dan rasa cemas yang selalu saja
menghampiri.
“Tuhan,
Ibu dan ayah bermunajat untuk seorang anak
laki-laki
Seperti burung-burung yang bermain di atap
kuil
Ibu dan ayah menengadah untuk seorang putra
Memukul lonceng pemujaan untukMu
Ibu dan ayah berdoa untuk anaknya
Persembahan untuk engkau yang diagungkan
Ibu dan ayah bermunajat, menengadah dan berdo’a
Untuk seorang anak
Aku dititipkan disini untuk sekedar membalas
budi
Sujud dan sholatku untukMu”.
Kulipat puisiku
membentuk pesawat kertas. Kuterbangkan seraya memejamkan kedua mata ini.
Kuharap terbang jauh sampai pada alamat yang kusemogakan. Kubuka perlahan pekat
mataku. Ah... pesawat kertas itu hanya terbang sejauh 5 meter di depanku. Tak
apalah, setidaknya aku sudah cukup ikhlas atas apa yang aku pikirkan hari ini.
Tentangku, ayah dan ibu, juga tentang keberadaanku.
Senja sudah mulai
turun, menjingga di pelupuk barat. Aku melangkah pulang ke pengasingan. Bagiku
ini pengasingan. Dimana perempuan sebayaku sumringah setiap hari di Sekolah
Menengah Atas (SMA) bersama teman-temannya. Sedang aku harus mengurusi
patung-patung dan lonceng. Sendiri. Hingga larut malam dan sunyi. Kurebahkan
tubuhku di ranjang. Nafasku mengembara
hanya sampai bola lampu kuning di atap kamarku. Lelap.
***
“Tok tok tok !!”
“Karin, bangun.
Sekarang hari minggu. Segera bersihkan sampah-sampah depan gerbang”
“Karin, bangun”.
Iya sebentar bu.
Aku beranjak dari ranjang, kusingkap kerudungku di bahu kananku. Aku bergegas
membuka pintu. Itu suara Bu. Aisyah. Hampir setiap hari membangunkanku. Aku
mulai menyapu di halaman kuil yang tak begitu kotor. Sesekali aku membayangkan
lelaki berperawakan tinggi putih yang datang kesini setiap minggu. Aku ingin
mengenalnya.
Benar, lelaki itu
datang lagi. Tapi kali ini dengan wanita cantik yang sepertinya iya tuna
daksa, meringkuh di kursi roda. Aku mulai berpikir siapa dia ?. Matanya
lentik berkulit putih. Dia bicara. Ya... dia berbicara. Tapi apa yang
dikatakannya. Bahasanya tak sama dengaku, aksennya berbeda. Dari mana mereka ?.
Aku terus berusaha
mendekati mereka di kerumunan yang tak begitu ramai. Aku mendengarnya. Ya.. aku
dengar itu.
“Yakek’ gnank’
tun, Arman !”1. Ucap wanita itu.
Keduanya bergerak
pulang setelah menyelesaikan pemujaan. Melangkah meninggalkan kuil. Lelaki itu
mesra menyurung kursi rodanya.
“Kak tunggu, sapu
tangan kakak jatuh”. Teriak Ali parau. Bocah kecil yang sering menemaniku
menemui ikan-ikan di sungai.
“Terimakasih.
Siapa nama adik ?”. Lelaki itu tersenyum.
“Ali kak. Iya
sama-sama”. Bocah itupun langsung berlari pergi menuju temannya bermain.
“Saya Arman.
Terimakasih !”. Teriak Arman.
Aku dengar itu, lelaki itu bernama Arman. Ya... teriakannya jelas
sekali. Dia Arman. Aku semakin penasaran. Semakin aku ingin tahu tentangnya.
Lelaki yang tampan, senyum yang kembang. Pandanganku tak pernah kujauhkan
darinya. Pikiranku tak akan melepaskannya, dari cengkraman yang begitu kuat
kusembunyikan dibalik perisai kata di setiap puisi yang tak pernah berujung
mesranya.
“Rubaiyat bintang-bintang
Kuinitip dekat jendela saat
malam pekat petang
Lekas kupandangi kemilaunya
Tersemat wajah-wajah
kerinduan”.
Malam ini aku hanya bermain dengan puisi. Sembari bemunajat tentang
kerinduanku untuk ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka. Air mataku telah
habis bersama lenyap hujan. Seringkali aku terpenjara dalam khayal. Membayang
sosok Arman yang tampan. Sepertinya dia lebih muda dariku. Ah... sudahlah. Aku
hanya gadis kuil. Sudah 5 tahun aku menjadi pelayan disini.
“Ceteeek”. Kumatikan lampu kamar. Tidur.
***
Matahari mengambang dekat bukit Yanar Dag. Bukit yang
terletak di wilayah Apsheron, Azerbaijan. Bukit yang selalu terbakar sepanjang
waktu meski diguyur hujan dan salju. Aku masih saja menyapu halaman. Ritual
pagiku setiap hari. Tapi kenapa tadi aku tidak dibangunkan oleh Bu. Aisyah.
Mungkin ia sibuk menyiapkan bekal sarapan dan seragam Ali. Hari ini Ali
–anaknya- masuk sekolah kelas 5 Sekolah Dasar (SD) setelah hampir dua bulan dia
liburan musim panas.
Segera kubereskan pekerjaanku. Aku ingin menemui Ali. Mengantarnya
pergi sekolah seperti biasa. Dia anak yang rajin. Aku senang dengannya. Hal ini
juga menjadi hiburan tersendiri bagiku. Dari pada aku hanya menghabiskan sepiku
di kuil.
Kupercepat langkahku. Berpacu menyingkirkan angin yang begitu
lirih. Sampai aku di petarangan rumah Ali, ya... rumah Bu. Aisyah. Pandanganku
semakin tajam ke ruang tamu rumah itu. Mataku beku. Astaga, aku tak menyangka.
Kukucek-kucek berulang mataku. Aku tidak percaya. Mungkin ini karena pengaruh
aku sering mengkhayalnya. Benar, aku tidak bermimpi kali ini. Ya... benar, dia
Arman. Lelaki itu. Apa yang dia lakukan ?.
Aku senang sekali pagi ini dapat melihatnya lagi. Piasnya berbeda
dari laki-laki lain yang datang ke kuil pada umumnya. Ya... aku tahu betul itu.
Dia sangat tampan sekali. Aku ingin menyalaminya.
“Karin sini, masuk !”
“Saya masak banyak shakarbura2”
“Masuklah, jangan mengintip saja”.
Lagi-lagi suara Bu. Aisyah. Teriaknya menyeret langkahku. Aku
tertatih malu. Tapi ini juga kesempatan untukku mengenalnya. Kuanggukkan
kepalaku menyapanya. Dia terlihat santun, aku duduk berhadapan dengannya.
Lelaki yang seringkali kupertanyakan padaa malam di setiap tidurku. Kali ini
aku sangat dekat dengannya. Dekat sekali. Dadaku berdetak kencang. Darahku
mengalir deras. Mataku tak henti mengaguminya. Sesekali kupalingkan
pandanganku. Kulihat Bu. Aisyah yang senyum padaku. Nadiku semakin dag dig dug
menggigil. Sepertinya Bu. Aisyah mengenali jalan otakku. Sebentar saja aku
mencicipi Shakarbura dan setengah
gelas wine tak habis. Aku ingin
keluar menghindarinya. Aku tidak begitu kuat menahan gemetar tubuhku. Kueratkan
mataku ini memejam.
“Siapa nama anda ?”. Aku sontak menyapanya.
“Hehe... saya Arman, Karin. Salam kenal”. Lelaki itu mekar
senyumnya. Dari mana dia tahu namaku. Tidak. Tidak. Aku tak boleh GR dulu. Aku harus pergi. Ah...
Aku bergegas “Bu terimakasih. Aku sudah kenyang. Aku pamit bu”.
“Tunggu Karin, maukah kamu menemaniku menikmati indah pagi desa ini
?”. Dia menarik tanganku. Menggengam pergelangan lalu melepasnya kembali. “Maaf
saya telah lancang menyentuhmu. Tapi kuharap kamu mau mengajakku mengelilingi
desa pagi ini. Kumohon”.
Kupercepat langkahku berjalan menapaki lorong-lorong disamping
rumah-rumah tetangga. Arman mengikutiku tergopoh-gopoh. Aku ragu untuk sekedar
menoleh kebelakangku. Aku melangkah dengan kewaswasanku. Kudengar suara semilir
riak air. Kudapati langkahku telah sampai di sungai, menghilangkan sejenak
lamunanku. Aku menyaksikan ikan-ikan berkejaran melawan arusnya. Kita mulai
berkenalan di tepi sungai. Aku telah membunuh rasa sungkanku. Kita saling
bersila memandangi sungai, seperti semedi. Ah... Sudahlah. Akau cukup senang
hari ini. Aku ingin memimpikannya. Kuharap diapun sama. Malam yang indah.
***
“Karin... Karin”.
“Siapa ?”.
Sepertinya aku mengenal suara itu. Tapi kenapa dia yang
membangunkanku ?. “Sebentar...”. Segera aku bercermin. Mengusap-usap wajahku
yang kusut. Sebisa mungkin aku harus terlihat indah didepannya. Kukenakan
kerudungku. Kerudung merah jambu kesukaanku. Padahal kerudung ini hanya
kukenakan saat pesta Novruz’3
saja. Selain itu aku menyimpannya rapi di lemari.
Lagi-lagi Arman mengajakku berkeliling desa. Dia ingin sekali
mengenal desa ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Entah apa yang ingin
dia ketahui. Aku mengiyakan kemauannya. Aku terus saja terjerembab di matanya
yang tajam dan hidungnya yang mancung. Aku belum jauh mengenalnya tapi aku
telah teduh dalam dekapnya. Pada deras aliran sungai, kicauan beburung kecil
warna-warni, segerombol ikan dengan gerak lincahnya, dibawah rindang pohon elderberry4 aku merelakan
kesucianku untukmu. Lelaki yang tak pernah kupertanyakan nasabnya.
Langit telah hilang mendungnya. Terseret oleh camar beterbangan
elok di ketinggian. Merasuki hatiku yang hangat oleh cumbunya. Hampir setiap
pagiku dihiasi harum cumbu kembang
lelaki yang memanag aku idamkan sejak lama. Arman. Sampai sering aku
melalaikan tugasku merawat kuil. Maafkan aku ayah, ibu. Maafkan aku tuhan, atas
segala kelalaianku. Aku begitu mencintainya. Aku tak ingin jauh darinya. Engkau
telah hadiahkan aku lelaki yang mencintaiku –mungkin- melebihi cinta ayah dan ibu
yang telah lama tidak menjengukku.
“Kaulah hadiah
Dari segala penantian yang
kucemaskan
Loceng-lonceng seakan
bergema dengan sendirinya
Kuil ini menjadi taman yang
sayup dan semilir
Kaulah hadiah
Tuhan mengirimmu untukku
Kaulah hadiah yang begitu
sempurna
Kuingin
Kau selalu bersamaku
Sampai malam yang panjang
telah habis kunikmati”.
***
Sudah dua minggu Arman tidak menemuiku. Lanskap kesedihan dibalut
kesendirian yang tak tahu kemana harus kukembara. Menyelami kegelisahan yang
dalam disetiap do’a tidurku. Digerayangi dana dihantui ketakutan yang
seringkali kupertanyakan. Langit menjadi mendung di ubun-ubunku. Aku hanya bisa
memutar kembali rekaman mesra di otakku saat kau mencumbuku.
“Taman punya kita berdua
Tak
lebar luas, kecil saja
Satu
tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi
kau dana aku cukuplah
Taman
kembangnya tak berpuluh warna
Padang
rumputnya tak berpanding
Perdamaian
Halus
lembut dipijak kaki.
Bagiku
bukan halangan.
Karena
Dalam
taman kita berdua
Kau
kembang, aku kumbang
Aku
kumbang, kau kembang
Kecil,
penuh surya taman kita
Tempat
merenggut dari dunia dan ‘nusia.”5
Aku tak bisa lebih lama menahan rindu ini. Aku harus menemuimu.
Tapi kemana ?. Siapa yang bisa kutanyakan ?. Siapa yang mengerti tentang
kemesraan kita ?. Yang pasti langit tak akan menjawab. Seisi kuil juga pasti
mengacuhkanku. Lalu pada siapa ?. Kau bilang aku harus merahasiakan hubungan
ini.
Arman... Semalam aku sakit memikirkanmu, aku lemah. Wajahku pucat,
hidungku sesekali mimisan, aku batuk-batuk, tubuhku dipermainkan angin, smakin
menggigil. Tubuh ini serasa remuk. Aku takut, Arman. Aku ingin mengajakmu
membawaku ke dokter. Aku tak ingin yang lain. Aku hanya ingin kau yang
mengantarku.
***
“Tidak, dokter. Tidak”.
“Aku tidak boleh... tidak”.
“Anda berbohong... jangan... jangan”.
Baiklah, jika ini benar terjadi aku tak akan segan mencintai dan
menyayangimu anakku. Tidak ada yang boleh tahu kehamilanku. Percayalah nak, tak
kubiarkan burung gagak turun ke petarangan. Merengeklah nak, aku sudah tak lagi
kuat berteriak, mengadu pada tuhan yang sring kali hilang dan jarang kutemui.
Aku ingin sekali mengasihimu. Aku luntur segala dosa oleh kesucianmu. Arman...
kembalilah... !.
“Ali.. sini temani kakak”. Mungkin Ali pernah tahu tantang Arman.
Mungkin dia pernah dicerikatan ibunya, Bu. Aisyah.
“Tidak kak. Kak Arman adalah putra kerajaan yang mendanai seluruh
kegiatan di distrik ini. Itu saja yang aku tahu kak”. Ali begitu polos. Dadaku
berdetak lebih kencang dari biasanya setelah kudapat informasi singkat tentang
Arman. “Tidak... tidak... dia bukan pytra kerajaan”.
“Bu Aisyah, maaf”. Aku mengalirkan tangis sesenggukan.
“Kenapa ? kenapa Karin ? kenapa kamu menangis ?.
“Maafkan aku”.
Rangkaian kata telah habis kusuarakan. Bungkam hanya seutas tangis,
air mata yang mulai kering, rindu yang pecah bercerai berai. Ketakutan dan
kecemasan datang bersama hujat hujan yang memukul-mukul hatiku. Ya... kudengar teriakan
itu, bak petir yang menyambar pohonan rindang lalu tumbang. Lalu aku berpikir
dalam cekam. Otakku mengawang berputar mengucurkan kegelisahan.
“Tidak. Tidak mungkin Arman melakukan itu. Dia bangsawan, kau harus
tahu itu !”.
“Lebih baik kau gugurkan kandunganmu. Fitnah tidak boleh lebih lama
gerilya di desa ini”.
“Gugurkan Karin, gugurkan !”.
Tidak mungkin. Setiap wanita hanya ingin menyayangi. Lalu pada
siapa aku harus menyayangi ? bayiku suci. Akan kupersembahkan dia sebagai
penebus dosaku pada tuhan. Dia yang nantinya akan menemani hari-hariku mengurusi
kuil. Dia akan menjadi penerusku. Dia akan menjadi anak yang baik dan berbakti.
Setiap petang aku bermunajat pada pekat sembari memejam khusu’. Aku menantikan
kelahirannya. Sudah kusiapkan nama untuknya.
“Tidak. Ini akan menjadi gunjingan di desa kita”.
“Lebih baik kau pergi saja tinggalkan kuil”.
“Kamu tlah berbohong, Karin”.
“Kerajaan akan murka atas khayalmu”.
Ibu, ayah, tolong aku. Aku telah pasrah dalam diri yang hina. Peluk
aku, ayah, ibu. Datanglah. Aku ingin kalian mengajakku pulang kerumah. Aku
telah kehilangan seluruh kekuatanku. Hadirlah ! walau hanya dalam mimpi.
“Anakku
Ibu dan ayah mendengar tangisan lucu
Apakah ia bayimu ?
Tampan sekali, kami merasakannya disini
Resonansi rengekan yang begitu riang
Anakku
Tuhan tak pernah membunuh hambanya
Dosamu akan dihapus atas kehendaknya
Berhiaslah dirimu
Serahkan hanya kepadanya
Anakku
Ayahmu bilang dia ingin sekali menamakan cucunya, Imran”.
1.
Yakek’ gnank’ tun, Arman ! = Mari kita pulang, Arman ! (Bahasa Armenia)
2.
Shakarbura = Kue
manis terbuat dari hazelnut yang beraroma jahe.
3.
Novruz’ = Perayaan tahun baru 21 Maret (Bahasa Persia)
4.
Elderberry = Sacumbus. Buah sejenis anggur kecil yang berbunga
5.
Taman = Puisi Chairil Anwar Maret 1943
Tentang Penulis
Fajrus Shiddiq, lahir di
pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1
Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Aktif tulis menulis semenjak masih
nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar
Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.
Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya
Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab) dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK
SUCI.
Wah... ini nih penulisnya Gadis Kuil.
BalasHapusEh... kamu pasti belum denger. Meski waktu itu pemenang ditiadakan, salah satu juri bilang kalau tulisan kamu ini masuk kategori unik atau nyeleneh gitu. Lupa istilahnya, pokoknya artinya sejenis dua kata itu (:
BalasHapus
hahaha.... amateur memang harus nyeleneh biar narik becak.. eh..
BalasHapus