Paradoks Mimpi
Merindumu
Dari
rahim mimpi telah lahir kembang diskursus
Pretensi
romansa pias wajahmu terangkum dalam opus
Temaram
simfoni mengalun hantarkan ke tepian pupus
Ensiklopedi
fatamorgana merah bibirmu memaksaku lupus
Puisi
inilah sebenar-benar ode rindu
Saat
aku terbangun dari gelisah tentang cumbu
Menafsir
perihal librisid cemburu di kamus palsu
Tiba-tiba
saja kau kabur bersama nyala lampu
Jadi
sakitlah perseptual ilusi dan makin kronis
Membatu-karang
menghantam karat hatiku dengan sporadis
Ciptakan
sepi paling tajam, lebih dari tajam sayat keris
Karena
kau bagiku siklus terakhir metamorfosis
O
mawar! bila kau Eros diantara anggur-anggur surga
Kususuri
sungaiku sendiri belantara hutan rimba
Tapi
duri-durimu pasti menggores-menusuk buat luka
Maka
biarkan aku lelap lagi meski sekedar sketsakan sandiwara
Kau
malam aku kelam
Aku
kelam kau malam
Gelap
lalu masuk dalam-dalam
Api
rindu mungkin padam
Malang,
21 Juli 2016
Sendenbu Cinta
Teman
lelakinya berbisik di kuping kanan
Teman
perempuannya berbisik di kuping kiri
Aku
melihat kasat dari jauh dengan rekaan
Melahap
habis satire redam emosi
Kuping
dan hatinya dipenuhi bisik
Gadis
itu makin angkuh dibawah terik
Gaya
jalannya tak lagi angsa
Ialah
merak di trotoar kota, dimangsa
Dari
ceritanya kudengar ia akan atau sudah kawin
Sehabis
kepalang skripsi lalu wisuda di musim dingin
Tapi
dingin sebenarnya aku, ia cuma jadi lalu angin
Malam
minggu itu, sudah lenyap di hari senin
Teman
lelakinya berbisik lagi di kuping kiri
Teman
barunya mulai berbisik di leher kanan
Mereka
kemudian merayu, dekat menghampiri
Seperti
saat aku hadiahinya dulu selayang kecupan
Sendenbu
cinta punya setiap mata
Maka
sekali kedip boleh saja langsung suka
Malang,
25 Juli 2016
Lamunan Bulan
Juli
Kalau
nanti sayang kita jumpa di laman mesra
Duduk
bersanding kuade asmara di potret figura
Taman-taman
sendiri kan jadi milik berdua
Kita
ciptakan pelangi tepat ketika buka mata
Kau
gadis belum sempat kutemu
Sebelum
ayah ibu kasak-kusuk bicara menantu
Sebelum
mereka melucu mimpi gendong cucu
Dari
noctruno yang masih ambigu
Kita
ngobrol dulu lah di warung kopi
Siapa
tahu anganku-anganmu bisa kompromi
Aku
pahit kau manis, melati tak berduri
Dari
papasan sebentar itu, harummu masih kujilati
Bulan
Juli sudah tak lagi hujan
Kering
kerontang danau jiwaku yang karatan
Menggodamu,
kata-kata mulai habis kutelan
Sedar
nunggu anggukmu dalam lamunan
Malang,
27 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar