Kamis, 10 Januari 2019

MALANG POST - PUISI FAJRUS SHIDDIQ


Paradoks Mimpi Merindumu

Dari rahim mimpi telah lahir kembang diskursus
Pretensi romansa pias wajahmu terangkum dalam opus
Temaram simfoni mengalun hantarkan ke tepian pupus
Ensiklopedi fatamorgana merah bibirmu memaksaku lupus

Puisi inilah sebenar-benar ode rindu
Saat aku terbangun dari gelisah tentang cumbu
Menafsir perihal librisid cemburu di kamus palsu
Tiba-tiba saja kau kabur bersama nyala lampu

Jadi sakitlah perseptual ilusi dan makin kronis
Membatu-karang menghantam karat hatiku dengan sporadis
Ciptakan sepi paling tajam, lebih dari tajam sayat keris
Karena kau bagiku siklus terakhir metamorfosis

O mawar! bila kau Eros diantara anggur-anggur surga
Kususuri sungaiku sendiri belantara hutan rimba
Tapi duri-durimu pasti menggores-menusuk buat luka
Maka biarkan aku lelap lagi meski sekedar sketsakan sandiwara

Kau malam aku kelam
Aku kelam kau malam
Gelap lalu masuk dalam-dalam
Api rindu mungkin padam

Malang, 21 Juli 2016





Sendenbu Cinta

Teman lelakinya berbisik di kuping kanan
Teman perempuannya berbisik di kuping kiri
Aku melihat kasat dari jauh dengan rekaan
Melahap habis satire redam emosi

Kuping dan hatinya dipenuhi bisik
Gadis itu makin angkuh dibawah terik
Gaya jalannya tak lagi angsa
Ialah merak di trotoar kota, dimangsa

Dari ceritanya kudengar ia akan atau sudah kawin
Sehabis kepalang skripsi lalu wisuda di musim dingin
Tapi dingin sebenarnya aku, ia cuma jadi lalu angin
Malam minggu itu, sudah lenyap di hari senin

Teman lelakinya berbisik lagi di kuping kiri
Teman barunya mulai berbisik di leher kanan
Mereka kemudian merayu, dekat menghampiri
Seperti saat aku hadiahinya dulu selayang kecupan

Sendenbu cinta punya setiap mata
Maka sekali kedip boleh saja langsung suka

Malang, 25 Juli 2016






Lamunan Bulan Juli

Kalau nanti sayang kita jumpa di laman mesra
Duduk bersanding kuade asmara di potret figura
Taman-taman sendiri kan jadi milik berdua
Kita ciptakan pelangi tepat ketika buka mata

Kau gadis belum sempat kutemu
Sebelum ayah ibu kasak-kusuk bicara menantu
Sebelum mereka melucu mimpi gendong cucu
Dari noctruno yang masih ambigu

Kita ngobrol dulu lah di warung kopi
Siapa tahu anganku-anganmu bisa kompromi
Aku pahit kau manis, melati tak berduri
Dari papasan sebentar itu, harummu masih kujilati

Bulan Juli sudah tak lagi hujan
Kering kerontang danau jiwaku yang karatan
Menggodamu, kata-kata mulai habis kutelan
Sedar nunggu anggukmu dalam lamunan


Malang, 27 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar