Tengah Malam
Suara
lagu jazz dari Irlandia di kamar kos dekat kamar mandi pesing
Harummu
masih melekat,
Tentu
saja bukan di bantal tidurku
Tapi
pada batu yang mulai leleh di dada
Menitikan
perih pada mata yang masih terjaga
Ada
pesan-pesan tak sampai padamu
Kusimpan
sendiri di lemari waktu
Sedang
aku terus bersandar pada mimpi
Dimana
malam makin panjang sebelum pagi
Serakan
tuah Socrates menjalar-jalar di otakku
Urat
pinang merah bibirmu juga merayu
Kemudian
aku takut pejamkan mata
Ada
hantu yang siap menyeret ke laut
Terombang-ambing
ombak samudera
Akupun
terseret pada kedalaman prasangka
Berdoa
Ia
masih bertahan pada keserampangan waktu
Kesewenang-wenangan
musim, jadi basah atau kering tak menentu
Padahal
ia pawang hujan, tukang bikin jimat gantung diatas pintu
Mantranya
tak lagi keramat seperti belia dulu
Ia
sebenarnya sedang merangkai jurus
Siasat
agar angin bisa tembus
Tapi
ia sering tak konsentrasi, tak serius, tak fokus
Sering
pula ia ngobrol sendiri tentang eksodus
Lagi
pula katanya, cinta tak lagi bisa dipercaya
Gebu
merindu pacar saja ia paksakan bersandiwara
Merangkai
kata lebih drama dari pada kasih tak sampai; Sitti Nurbaya
Tapi
ia tak kuat, bertahanlah pada cinta sebenarnya
Ia
menggumam kaulah itu kupu-kupu terakhir metamorfosis
Karena
selainmu, tiada terlihat bibir yang manis
Padahal
detak jantungnya kacau meringis
Tapi
baginya tetap kaulah cinta kronis
Ia
pun bersila menggulung-gulung jimat
Ditambah
mantra sulap biar dirasakannya nikmat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar