Kamis, 10 Januari 2019

RADAR MALANG - PUISI FAJRUS SHIDDIQ


Tengah Malam

Suara lagu jazz dari Irlandia di kamar kos dekat kamar mandi pesing
Harummu masih melekat,
Tentu saja bukan di bantal tidurku
Tapi pada batu yang mulai leleh di dada
Menitikan perih pada mata yang masih terjaga

Ada pesan-pesan tak sampai padamu
Kusimpan sendiri di lemari waktu

Sedang aku terus bersandar pada mimpi
Dimana malam makin panjang sebelum pagi
Serakan tuah Socrates menjalar-jalar di otakku
Urat pinang merah bibirmu juga merayu

Kemudian aku takut pejamkan mata
Ada hantu yang siap menyeret ke laut
Terombang-ambing ombak samudera
Akupun terseret pada kedalaman prasangka




Berdoa

Ia masih bertahan pada keserampangan waktu
Kesewenang-wenangan musim, jadi basah atau kering tak menentu
Padahal ia pawang hujan, tukang bikin jimat gantung diatas pintu
Mantranya tak lagi keramat seperti belia dulu

Ia sebenarnya sedang merangkai jurus
Siasat agar angin bisa tembus
Tapi ia sering tak konsentrasi, tak serius, tak fokus
Sering pula ia ngobrol sendiri tentang eksodus

Lagi pula katanya, cinta tak lagi bisa dipercaya
Gebu merindu pacar saja ia paksakan bersandiwara
Merangkai kata lebih drama dari pada kasih tak sampai; Sitti Nurbaya
Tapi ia tak kuat, bertahanlah pada cinta sebenarnya

Ia menggumam kaulah itu kupu-kupu terakhir metamorfosis
Karena selainmu, tiada terlihat bibir yang manis
Padahal detak jantungnya kacau meringis
Tapi baginya tetap kaulah cinta kronis

Ia pun bersila menggulung-gulung jimat
Ditambah mantra sulap biar dirasakannya nikmat

Malang, 7 September 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar