Bunga Bau Shunky
Sebab kau orok malang tak dimaui?
Yang merah ari-ari
Sarak ditimang karut Nona!
Requiem fetus di linang banyu mutlaq
Kenapa Nona,
Jadi bunga bau shunky? Yang mekar
Sedang batih merintih pedih
Lantaran culas tindak tandukmu
Memutus mimpi orok piatu
Baik segeralah bersarang dalam tangsi
Keikhlasan dzikir meluaskan penerimaanmu
Pada sempit bui tempatmu bermalam.
Luruh hujan dini hari,
Menciptakan oase/ untukmu bercermin
Menetes di sajadahmu/ membasuh dadamu
Mala!
Ibunya sudah mewanti-wanti
Jangan dekat-dekat anak lanang itu
Mala!
Ialah gadis perawan menapak di surau
Ketika lenyap merah jingga di ufuk barat
Angin semilir, daunan desir
Tapi tingkahnya begitu kanak-kanaknya
Gampanglah ia dibual lelaki muda yang pandai berpuisi dan siasat
Menjanjikan jalan bentang menuju pematang yang memikat mata hati
Tapi janji tanpa sepakat ibarat materai yang tak lekat
Yang pada ujungnya menyisakan mala
CEMAS
Hujan turun pelan-pelan
Bebarengan keluarnya terperiksa kasus korupsi
Dari ruangan tertutup, antara penyidik dan saksi
Hujan turun semakin lebatnya
Satu saksi lari terbirit-birit menuju mobilnya
Ia tidak lagi melambaikan tangan
Seperti waktu belum masuk ruang pemeriksaan
Hujan tak hentinya menggebuk-gebuk bumi
Akankah juga menggebuk hati orang korupsi
Yang saat ini masih saja bersembunyi
Dengan dalih menafkahi anak istri
Lalu mentari rebah dibalik genteng kantor polisi
Hujan pun merasa sudah cukup membasahi
Satu persatu saksi pergi tanpa mau diwawancara
Mereka malu mukanya terpampang di media
Polres Malang Kota, 2018
Copet Sial
Duhai pekat
malam yang mengalirkan kekuatan
Curahkan
azimatmu lekat seluruh badan
Abrakadabra,
jadi tak terlihat
Bisa lah
menerabas pukat
Ia mengembara
di lorong-lorong pasar
Sambil mengusap
azimat mengintai seseorang yang sasar
Tapi pasar
tak seluas bandar
Copet itu
ibarat lakon di ketang latar
Kali ini
ia hanyalah copet sial
Digebuki
bakul menjes, dua tangannya sadrah di cekak gelang besi
Diseret inspektur
polisi antara serenging tangan-tangan kepal
Ia tertunduk
kepala, gagal sudah memagut Sulastri
Yang
jerit waktu diraba pinggulnya yang gempal
Pasar Besar Malang, 2018
Maling Motor Minda
Dibalik jendela
terkabar riak hujan
Taram rumahnya
mendesak-desak ganjalan
Sri
sendiri mengirim pesan kesepian
Teruntuk
lelaki pemeran serabutan
Ia mengikat
kaul bertemu di taman
Api Minda
menjalar-jalar di waktu kencan
Sri
mengangguk, petanda ijab jadian
Ke puncak
Batu, hanya berduaan di tajalli rembulan
Mengoyak-kerih
rongga penguripan
Minda tersadar
mentari mengintip di kuncup-kuncup krisan
Berdua gegas
bersiram, sudah itu pacaran di swalayan
”Aku ke
motor dulu, ada yang ketinggalan,”
Lalu menghilang,
kemana tertelan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar