Kamis, 10 Januari 2019

RIAU POS - PUISI FAJRUS SHIDDIQ


Bunga Bau Shunky


Sebab kau orok malang tak dimaui?
Yang merah ari-ari
Sarak ditimang karut Nona!
Requiem fetus di linang banyu mutlaq

Kenapa Nona,
Jadi bunga bau shunky? Yang mekar
Sedang batih merintih pedih
Lantaran culas tindak tandukmu
Memutus mimpi orok piatu

Baik segeralah bersarang dalam tangsi
Keikhlasan dzikir meluaskan penerimaanmu
Pada sempit bui tempatmu bermalam.
Luruh hujan dini hari,
Menciptakan oase/ untukmu bercermin
Menetes di sajadahmu/ membasuh dadamu



Mala!

Ibunya sudah mewanti-wanti
Jangan dekat-dekat anak lanang itu
Mala!

Ialah gadis perawan menapak di surau
Ketika lenyap merah jingga di ufuk barat
Angin semilir, daunan desir
Tapi tingkahnya begitu kanak-kanaknya

Gampanglah ia dibual lelaki muda yang pandai berpuisi dan siasat
Menjanjikan jalan bentang menuju pematang yang memikat mata hati
Tapi janji tanpa sepakat ibarat materai yang tak lekat
Yang pada ujungnya menyisakan mala



CEMAS

Hujan turun pelan-pelan
Bebarengan keluarnya terperiksa kasus korupsi
Dari ruangan tertutup, antara penyidik dan saksi

Hujan turun semakin lebatnya
Satu saksi lari terbirit-birit menuju mobilnya
Ia tidak lagi melambaikan tangan
Seperti waktu belum masuk ruang pemeriksaan

Hujan tak hentinya menggebuk-gebuk bumi
Akankah juga menggebuk hati orang korupsi
Yang saat ini masih saja bersembunyi
Dengan dalih menafkahi anak istri

Lalu mentari rebah dibalik genteng kantor polisi
Hujan pun merasa sudah cukup membasahi
Satu persatu saksi pergi tanpa mau diwawancara
Mereka malu mukanya terpampang di media

Polres Malang Kota, 2018




Copet Sial

Duhai pekat malam yang mengalirkan kekuatan
Curahkan azimatmu lekat seluruh badan
Abrakadabra, jadi tak terlihat
Bisa lah menerabas pukat

Ia mengembara di lorong-lorong pasar
Sambil mengusap azimat mengintai seseorang yang sasar
Tapi pasar tak seluas bandar
Copet itu ibarat lakon di ketang latar

Kali ini ia hanyalah copet sial
Digebuki bakul menjes, dua tangannya sadrah di cekak gelang besi
Diseret inspektur polisi antara serenging tangan-tangan kepal
Ia tertunduk kepala, gagal sudah memagut Sulastri
Yang jerit waktu diraba pinggulnya yang gempal

Pasar Besar Malang, 2018



Maling Motor Minda

Dibalik jendela terkabar riak hujan
Taram rumahnya mendesak-desak ganjalan
Sri sendiri mengirim pesan kesepian
Teruntuk lelaki pemeran serabutan

Ia mengikat kaul bertemu di taman
Api Minda menjalar-jalar di waktu kencan
Sri mengangguk, petanda ijab jadian
Ke puncak Batu, hanya berduaan di tajalli rembulan
Mengoyak-kerih rongga penguripan

Minda tersadar mentari mengintip di kuncup-kuncup krisan
Berdua gegas bersiram, sudah itu pacaran di swalayan
”Aku ke motor dulu, ada yang ketinggalan,”
Lalu menghilang, kemana tertelan

Tahu kau, di kantor polisi Minda jadi pesakitan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar