Puisi Seorang
Jurnalis
Ini
musim labah-labah janda hitam
Simposium
diskusi makin serat. di jami’ah
warung
kopi/ kolam pancing/
menyantap
tempe goreng hangat, dalam pelukan gigil
Labah-labah
jadi cakap angin di simpang waktu
Kota
ini jadi tambah macet. sebab
Orang
berdasi dari Jakarta itu
Berduyun-duyun
datang
Di
kota yang malang
Diksi-diksi
kotor dari ibu kota
Terseret
angin, masuk ke kantong saku politisi
dan
ke dompet konvensi
Seperti
serbuk sari saja
Jatuh
melekap di pangkuan lengan putik
Fotosintesis
Sempurna
Lalu
politisi menebar senyum paripurna
Tapi
malam ini, diskusi tidak sebegitu
Pandai
ahli dari istana
Agak-agih
hasil peluh tuan presiden
Ia
berkata;
”Lebih
baik diskusi tidak jadi konsumsi media,” erangnya
merambat
lewat mikropon
semua
ruang sudah terkepung
oleh
kabut-kabut kampanye.
Sampai
di sini saja puisi ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar