Kamis, 10 Januari 2019

RADAR BANDUNG - PUISI FAJRUS SHIDDIQ


PERTUNJUKAN

yang berdarah dingin lagi bertarung musuh yang berdarah panas,
adalah ampibi versus noctrun
tapi atur dulu suhu tubuh masing-masing, di rawa dan reranting
nyatanya ini pertarungan ulangan, di bawah genting

selama berdaulat di rumah, ampibi menjelma predator bringas
melahap apapun asal masuk kerongkongan
jika tak punya pilihan; ia makan terlur dan bangsanya.
diam-diam

sedang noctrun berteriak lantang di langit pekarangan
suaranya kembali, mengabarkan sejinjing gelagat lawan
sekarang ia makan buah, nanti makan darah.
sambil terbang

ampibi dan noctrun satu ini, memasang ladam lutut kavaleri
kumandang perang disongsong, tak lama pasca konstanta pertama disudahi
yang terbang lempar mesiu/
darah makin panas, makin tegas itu berang
yang nyelam pura-pura tak kena/
sembunyi di batu lumut, sudah itu ancang-ancang

pabila panas medan-
pesawat jatuh, kaki jembatan rubuh
dibuatnya kabar palsu tiap kuping-kuping perkampungan
nyatanya ini pertarungan ulangan, bara yang belum padam

angin ribut, lahir kemelut
sekawanan ingar, bikin onar
nyatanya ini pertarungan ulangan, yang tak perlu melenyapkan

sebuah pertunjukan di tanah gembur
rakyat menontonnya sambil menimba kering sumur


Malang, Penghujung 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar