PERTUNJUKAN
yang
berdarah dingin lagi bertarung musuh yang berdarah panas,
adalah
ampibi versus noctrun
tapi
atur dulu suhu tubuh masing-masing, di rawa dan reranting
nyatanya
ini pertarungan ulangan, di bawah genting
selama
berdaulat di rumah, ampibi menjelma predator bringas
melahap
apapun asal masuk kerongkongan
jika
tak punya pilihan; ia makan terlur dan bangsanya.
diam-diam
sedang
noctrun berteriak lantang di langit pekarangan
suaranya
kembali, mengabarkan sejinjing gelagat lawan
sekarang
ia makan buah, nanti makan darah.
sambil
terbang
ampibi
dan noctrun satu ini, memasang ladam lutut kavaleri
kumandang
perang disongsong, tak lama pasca konstanta pertama disudahi
yang
terbang lempar mesiu/
darah
makin panas, makin tegas itu berang
yang
nyelam pura-pura tak kena/
sembunyi
di batu lumut, sudah itu ancang-ancang
pabila
panas medan-
pesawat
jatuh, kaki jembatan rubuh
dibuatnya
kabar palsu tiap kuping-kuping perkampungan
nyatanya
ini pertarungan ulangan, bara yang belum padam
angin
ribut, lahir kemelut
sekawanan
ingar, bikin onar
nyatanya
ini pertarungan ulangan, yang tak perlu melenyapkan
sebuah
pertunjukan di tanah gembur
rakyat
menontonnya sambil menimba kering sumur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar